إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ .يا عباد الله اوصيكم و نفسي
بتقوى الله فقد فازالمتقون قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ :﴿
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا
تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan
segala kenikmatan sehingga di hari yang mulia ini kita masih sanggup untuk
melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid yang penuh barakah ini.
Selawat dan salam tak lupa kita lantunkan kepada Nabi Muhammad yang telah
membimbing dan menjadi suri teladan. Selanjutnya, khatib berwasiat kepada
para jamaah untuk selalu meningkatkan takwa. Takwa yang berarti menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Takwa merupakan ukuran kemuliaan manusia. Meskipun zaman berganti dan
teknologi berkembang, takwa selalu menjadi pintu utama yang membimbing
keselamatan dan kesuksesan umat manusia. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat
ayat 13
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari harta,
jabatan, maupun jumlah followers di media sosial tetapi ditentukan oleh
kadar ketakwaannya kepada Allah. Oleh karena itu, Takwa tidak terbatas oleh
ruang dan waktu. Tidak cukup jika takwa hanya berfokus pada ibadah mahdah
kepada Sang Khalik, tetapi lupa menjaga hubungan yang baik kepada sesama
makhluk. Tidak cukup jika bersikap takwa saat di hubungan fisik nyata tetapi
lupa ketika berada di dunia maya.
Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Media sosial hari ini sudah jauh berbeda dari fungsi awalnya. Dulu, media
sosial digunakan hanya sebagai sarana menambah pertemanan, bertukar kabar,
atau sekedar hiburan di waktu senggang. Namun saat ini, media sosial telah
menjadi gaya hidup, tempat bekerja, bahkan sebagian orang menjadikannya
sebagai pedoman hidup dan tolak ukur kesuksesan.
Oleh karena itu, kita sebagai muslim dituntut untuk terus bertakwa di mana
pun dan kapan pun kita berada termasuk ketika kita sedang berada di media
sosial. Rasulullah telah mengingatkan kita,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Lalu seperti apa bentuk nyata ketakwaan ketika kita berada di media sosial?
Setidaknya ada tiga prinsip utama yang harus kita perhatikan agar kita tidak
celaka dan mendapatkan bahaya saat berada di media sosial.
Pertama, menjaga lisan. Jika dulu lisan dan ucapan menjadi satu-satunya alat
seseorang untuk berbicara baik atau buruk, maka hari ini tulisan dan ketikan
kita yang harus dijaga saat di media sosial. Rasulullah bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ
Orang yang bertakwa akan menjadikan hadis ini sebagai prinsip dan pegangan
sebelum menekan tombol send atau kirim. Setiap komentar, unggahan, dan
postingan akan menjadi rekaman amal yang kelak diminta pertanggungjawaban di
hadapan Allah.
Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Kedua, menjaga tabayyun. Begitu mudah dan banyaknya informasi yang muncul di
media sosial juga turut serta mempercepat tersebarnya berita bohong, fitnah,
dan gosip. Seseorang yang bertakwa tidak akan mudah menekan tombol share
atau bagikan sebelum memastikan kebenaran sebuah berita.
Hendaknya kita menahan diri dari sifat ingin menceritakan atau membagikan
semua hal kepada orang lain. Rasulullah bersabda
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa
yang ia dengar .” (HR. Muslim)
Oleh sebab itu, Jika tidak bisa memastikan berita, maka jangan mudah
menyebarkan atau meneruskan setiap pesan dan video. Karena hal itu merupakan
bentuk jariyah. Jika kita menyebarkan kebaikan, maka jariyah pahala yang
kita dapatkan. Sebaliknya, jika fitnah dan dosa kita teruskan kepada orang
lain maka itulah jariyah yang didapatkan.
Jamaah salat Jumat yang berbahagia,
Ketiga, menjaga pandangan. Media sosial sering kali menampilkan dan
mempertontonkan konten video yang tidak sesuai dengan nilai moral dan agama.
apalagi terdapat sistem algoritma yang awalnya sekadar menampilkan konten
acak lalu kemudian berubah menjadi kebiasaan yang tidak bermanfaat.
Oleh Karena itu, menjaga pandangan di media sosial tidak hanya berkaitan
dengan kemampuan menundukkan mata ketika berhadapan dengan sesuatu yang
haram, tetapi juga menuntut kesadaran dalam memilih konten dan mengendalikan
kebiasaan berselancar.

0 Response to "Khutbah Jumat: Bertakwa di Media Sosial"
Posting Komentar
Terima kasih telah membaca artikel ini. Bila berkenan, Anda bisa tinggalkan komentar. Semoga komentar-komentar baik Anda diberi balasan oleh Allah...