Khutbah Jumat: Menyembelih Binatang, Menghidupkan Ismail

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تُعَظَّمُ الشَّعَائِرُ وَالْعِبَادَاتُ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا مِنْ مَوَاسِمِ الْخَيْرِ وَبَرَكَاتِ يَوْمِ النَّحْرِ وَالْأُضْحِيَّاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ، الَّذِي جَعَلَ الْفِدَاءَ لِخَلِيْلِهِ إِبْرَاهِيْمَ ذِبْحًا عَظِيْمًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ، اَلَّذِي سَنَّ لَنَا الْأُضْحِيَّةَ تَقَرُّبًا إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ وَاتَّبَعُوْا مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا، أَجْمَعِيْن. 

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Pertama-tama, marilah kita ucapkan syukur kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat kesehatan, kekuatan, dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul di Masjid yang penuh berkah ini untuk bersama-sama melaksanakan ibadah salat Jumat.

Kedua, mari kita sampaikan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad yang telah membimbing kita dan menjadi panutan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketiga, khatib berwasiat untuk selalu meningkatkan takwa kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Beberapa hari lagi, kita akan merayakan hari raya Iduladha. Salah satu kisah yang paling diingat adalah momen di mana Nabi Ibrahim as. akan menyembelih Nabi Ismail as. namun di detik-detik akhir, Allah Swt. menggantikannya dengan seekor domba.

Peristiwa ini bukan sekadar keajaiban fisik, melainkan simbol tingkat tinggi tentang anatomi jiwa manusia. Allah ingin menunjukkan bahwa dalam diri setiap kita, ada "Ismail" (fitrah kemanusiaan yang suci) dan ada "binatang" (insting nafsu yang liar). Allah telah mengingatkan kita dalam QS Al-Hajj: 37

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ 

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.

Maka kurban bukan soal memindahkan darah hewan ke tanah saja. Kurban adalah soal siapa yang lebih dulu hilang di dalam dada kita: Apakah kemanusiaan kita yang disembelih oleh nafsu yang membara? Ataukah kebinatangan kita yang dipangkas oleh ketakwaan yang nyata?

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Di zaman teknologi di mana semua hal dan aktivitas dapat dilakukan dengan sangat cepat dan mudah, manusia sering kali justru terperosok ke dalam sifat-sifat kebinatangan yang lebih parah dari binatang itu sendiri. Allah telah memperingatkan dalam QS Al-A’raf ayat 179

لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Binatang hanya memangsa saat lapar, tapi manusia bisa merampas hak orang lain hanya karena keserakahan yang tak pernah kenyang. Binatang berkelahi demi wilayah, tapi manusia bisa menghancurkan sebuah bangsa demi ego dan kekuasaan.

Akhir-akhir ini, kita melihat nilai kemanusiaan semakin hilang. Sifat rakus yang menghalalkan segala cara demi perut, persis seperti hewan yang berebut pakan. Sifat buas dalam menghujat dan menjatuhkan sesama di media sosial, persis seperti predator yang mengincar mangsa.

Ketika seseorang hanya hidup untuk makan, tidur, dan memuaskan syahwat tanpa mengenal halal-haram,, maka saat itulah ia telah kehilangan "Ismail" di dalam dirinya dan hanya menyisakan "Binatang" yang berbalut pakaian manusia.

Inilah hikmah mengapa nabi Ismail diganti dengan hewan. Allah seakan berpesan: "Jangan sembelih kemanusiaanmu, tapi sembelihlah sifat kebinatanganmu." Kurban adalah sebuah ritual "bedah jiwa". Saat kita menyembelih kambing atau sapi, kita diperintahkan untuk secara simbolis ikut menyembelih sifat sombong, rakus, dan egois yang ada di dalam dada.

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Jamaah sekalian, baik kita yang tahun ini mampu membeli hewan kurban maupun yang belum, kita semua memiliki kewajiban untuk melakukan "penyembelihan batin". Ada tiga langkah penting yang harus kita lakukan bersamaan dengan hari penyembelihan nanti.

Pertama, Mengasah Pisau Tekad. Sebagaimana pisau kurban harus tajam agar tidak menyiksa, asahlah tekad kita setajam mungkin. Kenali satu sifat binatang yang paling dominan dalam diri kita—apakah itu kemarahan yang liar, keserakahan yang rakus, atau kesombongan yang merasa paling tinggi. Bulatkan niat untuk memutus urat sifat tersebut tepat di hari raya nanti.

Kedua, Merebahkan Ego ke Bumi. Sebelum disembelih, hewan direbahkan menghadap kiblat. Maka, rebahkanlah ego kita serendah-rendahnya ke bumi. Akui di hadapan Allah bahwa semua jabatan, harta, dan kehebatan kita hanyalah titipan. Jangan biarkan "hewan" kesombongan dalam diri tetap berdiri tegak sementara kita mengaku sedang berkurban.

Ketiga, Mengalirkan Darah Kikir. Saat darah hewan mengalir, bayangkan kita sedang mengalirkan keluar rasa kikir dan pelit dari hati kita. Bagi yang menyembelih hewan, buktikan dengan membagikan daging terbaik. Bagi yang belum mampu berkurban hewan, "sembelihlah" rasa acuhmu dengan memberikan bantuan tenaga, senyuman, atau sedekah sekecil apa pun kepada tetangga yang membutuhkan. Dengan cara ini, Iduladha kita tidak akan terjebak pada ritual fisik semata, melainkan menjadi revolusi jiwa yang menjadikan kita manusia yang lebih mulia di mata Allah Swt.

Jamaah salat Jumat yang berbahagia

Kurban adalah tentang ketepatan memotong. Salah potong, hewan tersebut hanya menjadi bangkai. Begitu pula dengan hidup kita; jika kita salah memotong, kita justru menyembelih sisi kemanusiaan kita demi memuaskan sisi kebinatangan kita.

Mari kita berdoa agar di Iduladha tahun ini, Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi "penyembelih" yang ahli. Penyembelih yang sukses mematikan sifat rakus, iri, dan sombong, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim alaihissalam.

Serta kita juga berdoa semoga bisa menjadi seperti Nabi Ismail yang sukses menyelamatkan fitrah "Ismail" yang suci di dalam dada kita sehingga menjadikan kita insan yang semakin beriman dan bertakwa kepada Allah.

Subscribe untuk mendapat email artikel terbaru:

0 Response to "Khutbah Jumat: Menyembelih Binatang, Menghidupkan Ismail"

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel ini. Bila berkenan, Anda bisa tinggalkan komentar. Semoga komentar-komentar baik Anda diberi balasan oleh Allah...