Mad Shilah Qashirah dan Thawilah

Salah satu dari pembahasan hukum bacaan Mad adalah Mad Shilah. Pembahasan Mad Shilah bagi sebagian orang merupakan hal mudah dan sebagian lain sebaliknya. Maka dari itu, mari kita bahas bersama-sama mengenai penjelasan Mad Shilah secara lengkap dan rinci. Insyaallah...

Mad Shilah sendiri nanti nya dibagi ke dalam dua macam yaitu Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah. Di sebagian kitab tajwid memberi nama lain, misalnya dalam kitab al-Mufid yakni Mad Shilah Shughra dan Mad Shilah Kubra.

Mad Shilah Qashirah

Secara bahasa, Mad Shilah Qashirah terdiri dari 3 kata yaitu Mad, Shilah, dan Qashirah. Mad artinya panjang, Shilah artinya sambung (menyambungkan), dan Qashirah artinya pendek. Jika menggunakan nama Mad Shilah Shugra, maka Shugra artinya kecil.

Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Shilah Qashirah adalah memanjangkan ha' dhamir (kata ganti) tambahan pada suatu kata yang tidak bertemu hamzah. Huruf ha' dhamir yang dimaksud di sini adalah kata ganti untuk dia 1 orang laki-laki. Biasanya ia diletakkan sesudah kata dan tidak mungkin di awal kata.

Ha Dhamir sendiri terdiri dari dua harakat. Ada yang berharakat dhammah dan ada yang berharakat kasrah. Semua ha' dhamir dibaca dhammah kecuali jika sebelumnya ada ya' sukun dan harakat kasrah (maka ha' dhamir berharakat kasrah). Perhatikan ha' dhamir dalam contoh di bawah ini.

Ha' Dhamir dibaca kasrah karena sebelumnya kasrah

Cara membaca Mad Shilah Qashirah adalah dengan memanjangkan ha' dhamir sekitar 1 alif atau 2 harakat, seperti halnya membaca Mad Thabi'i. Salah satu contohnya adalah gambar di atas, yang terdapat dalam Qs Al-'Adiyat ayat 4.

Setiap ha' dhamir yang dibaca panjang maka disebut Mad Shilah. Sedangkan ha' dhamir yang tidak dibaca panjang maka bukan termasuk hukum bacaan Mad Shilah. Kapan ha' dhamir dibaca panjang atau pendek? Hemat penulis, di setiap mushaf sudah diberi tanda baca apakah ha' dhamir nya dibaca panjang atau pendek sehingga para pembaca tidak perlu khawatir.

Dalam contoh gambar di atas, penulis mengambil dari mushaf madinah. Untuk mushaf Madinah, ha' dhamir yang dibaca panjang diberi tambahan huruf kecil. Kalau dalam contoh di atas, ada huruf ya' kecil sebagai tanda baca panjang ha' dhamir-nya. Sedangkan jika dhammah maka tanda baca panjang ada wawu kecil.

Adapun untuk mushaf Indonesia, ha' dhamir untuk Mad Shilah Qashirah diberi tanda alif terbalik jika berharakat kasrah dan wawu terbalik jika berharakat dhammah. Contoh Mad Shilah Qashirah dalam mushaf Standar Indonesia yang berharakat kasrah, diambil dari QS Al-Baqarah ayat 22

فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ

Contoh Mad Shilah Qashirah dalam Mushaf Standar Indonesia yang berharakat dhammah, diambil dari QS Al-Baqarah ayat 64

وَرَحْمَتُهٗ لَكُنْتُمْ

Disebut Qashirah karena panjang saat membacanya hanya 1 alif atau 2 harakat saja. Berbeda dengan Mad Shilah Thawilah yang lebih panjang. Penjelasan mengenai Mad Shilah Thawilah akan dibahas setelah ini.

Mad Shilah Thawilah

Secara bahasa, Mad Shilah Thawilah terdiri dari 3 kata yaitu Mad, Shilah, dan Thawilah. Mad artinya panjang, Shilah artinya sambung (menyambungkan), dan Thawilah artinya panjang. Jika menggunakan nama Mad Shilah Kubra, maka Kubra artinya besar.

Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Shilah Thawilah adalah memanjangkan ha' dhamir (kata ganti) tambahan pada suatu kata yang  bertemu hamzah. Jadi ini merupakan kebalikan dari Mad Shilah Qashirah. Kuncinya, setelah ha' dhamir panjang bertemu dengan hamzah atau tidak.

Cara membaca Mad Shilah Thawilah adalah dengan memanjangkan ha' dhamir sekitar 2 alif atau 2,5 alif (4 atau 5 harakat), mirip dengan bacaan Mad Jaiz Munfashil. Dan yang lebih diutamakan adalah memanjangkan sekitar 2 alif atau 4 harakat.

Contoh Mad Shilah Thawilah dalam QS Al-Baqarah ayat 80 sebagai berikut ini

فَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ عَهْدَهٗٓ اَمْ تَقُوْلُوْنَ

Contoh Mad Shilah Thawilah lainnya dalam QS Al-Baqarah ayat 27 sebagai berikut ini

اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ

Tambahan-Tambahan

Dalam beberapa literatur tajwid, disebutkan juga kondisi yang membuat ha' dhamir dibaca panjang atau tidak. Ha' dhamir dibaca panjang jika sebelum dan sesudahnya terdapat huruf berharakat. Jika syarat itu tidak terpenuhi maka ha' dhamir tidak dibaca panjang.

Namun, hemat penulis, kondisi demikian tidak perlu disebutkan andaikan memberatkan para pelajar ilmu tajwid karena dalam mushafnya sudah terdapat tanda baca nya. Bisa saja dan tentu boleh, jika ingin menambahkan syarat berupa "sebelum dan sesudahnya terdapat huruf berharakat". Tetapi nanti akan muncul beberapa tambahan yang, sekali lagi, dikhawatirkan memberatkan para pembaca atau pelajar.

Tambahan terseebut misalnya, terdapat pengecualian untuk ha' dhamir pada QS Al-Furqan ayat 69 yang berbunyi

يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا

Perhatikan ha' dhamir pada kata yang berwarna merah dibaca panjang, padahal sebelumnya ada ya' sukun dimana seharusnya ia dibaca pendek. Pengecualian atau tambahan seperti ini yang dikhawatirkan menyulitkan pemahaman dan penguasaan hukum ini.

Dalam mempelajari Mad Shilah ini juga tidak perlu menyebutkan "Semua ha' dhamir dibaca dhammah kecuali jika sebelumnya ada ya' sukun dan harakat kasrah (maka ha' dhamir berharakat kasrah)", karena akan muncul tambahan-tambahan atau pengecualian. Contoh misalnya dalam QS Al-Kahfi ayat 63

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Perhatikan ha' dhamir pada kata yang berwarna merah. Seharusnya, ha' dhamir yang sebelumnya terdapat ya' sukun maka dibaca kasrah, namun dalam ayat di atas malah tetap dibaca dhammah. Pengecualian demikian, lagi-lagi, semoga tidak memberatkan.

Sehingga, pengertian Mad Shilah adalah memanjangkan ha' dhamir atau ha' dhamir yang dibaca panjang. Jika Mad Shilah Qashirah maka memanjangkan ha' dhamir yang tidak bertemu hamzah, sedangkan jika Mad Shilah Thawilah maka memanjangkan ha' dhamir yang bertemu hamzah.

Tambahan atau pengeculian lainnya, yang cukup populer, yang terdapat pada QS az-Zumar ayat 7 berikut ini

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Perhatikan ha' dhamir pada kata yang berwarna merah. Jika memperhatikan syarat tentang bagaimana ha' dhamir dibaca panjang atau pendek, maka seharusnya ha' dhamir yang terdapat di atas juga dibaca panjang, namun ha' dhamir tersebut memang dibaca pendek karena ada yang dibuang.

Subscribe untuk mendapat email artikel terbaru:

0 Response to "Mad Shilah Qashirah dan Thawilah"

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel ini. Bila berkenan, Anda bisa tinggalkan komentar. Semoga komentar-komentar baik Anda diberi balasan oleh Allah...