Hikmah Taqdim Ta'khir al-Quran

Setelah membaca dan mengetahui adanya taqdim dan ta'khir kata dalam al-Quran serta macam-macam pembagian dan perdebatan di dalamnya, lalu mengapa ini bisa terjadi? Apa hikmah atau sebab di balik adanya taqdim dan ta'khir ini?


Artikel ini menjelaskan total 10 (sepuluh) hikmah di balik taqdim dan ta'khir kata dalam al-Quran yang merujuk pada kitab az-Ziyadah wa al-Ihsan fi Ulum al-Quran tepatnya di bab Ilm Muqaddamihi wa Mu'akhkhirihi.

Pertama, tabarruk atau mencari keberkahan. Misalnya dalam QS Al-Anfal ayat 41 tentang ghanimah atau harta rampasan perang yang dibagi seperlima. Seperlima pertama mendahulukan untuk Allah, lalu Rasul-Nya, dan selanjutnya.
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَىْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ ٱلْفُرْقَانِ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Kedua, ta'dhim atau mengagungkan. Misalnya mendahulukan Allah daripada rasul maupun malaikat seperti dalam QS Ali Imran ayat 18 dan QS Al-Azhab ayat 56. Di bawah ini QS Ali Imran ayat 18 yang mendahulukan Allah, lalu malaikat, lalu ulul Ilmi.
شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Di bawah ini adalah QS Al-Azhab ayat 56 yang mendahulukan Allah baru setelah itu malaikat, yang keduanya memberikan "shalawat" kepada Nabi Muhammad.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Ketiga, tasyrif atau memuliakan. Misalnya memuliakan laki-laki atas perempuan, atau orang merdeka atas orang budak, dan lain-lain. Misalnya potongan QS Al-Ahzab ayat 35 yang cukup panjang dan populer karena menyandingkan laki-laki dan perempuan.
إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلْخَٰشِعِينَ وَٱلْخَٰشِعَٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلْحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَٰفِظَٰتِ...

Keempat, munasabah. Artinya keterkaitan atau berhubungan. Misalnya dalam QS Al-Furqan ayat 67 yang mendahulukan israf atau berlebihan karena jika berkaitan dengan harta maka manusia cenderung berlebih-lebihan.
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Contoh lainnya adalah QS Ar-Rum ayat 24 saat membahas petir atau kilat maka manusia cenderung ketakutan sehingga lebih didahulukan kata khawf (takut) daripada thama' (harapan). Harapan muncul  karena mengharap adanya hujan.
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ يُرِيكُمُ ٱلْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا

Kelima, hatsts 'alaih. Artinya dorongan atau anjuran untuk dilakukan. Bisa juga diartikan sebagai pengingat agar berhati-hati dari sikap meremehkan. Misalnya dalam QS an-Nisa ayat 11 yang mendahulukan wasiat daripada hutang.
مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِى بِهَآ أَوْ دَيْنٍ

Keenam, sabaq. Maksudnya sesuai urutan alaminya, bisa jadi karena urutan waktu maupun aspek lainnya. Misalnya dalam QS At-Taubah ayat 70 yang mendahulukan umatnya nabi Nuh, kaum Ad, kaum Tsamud, baru kaumnya nabi Ibrahim.
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَٰهِيمَ وَأَصْحَٰبِ مَدْيَنَ وَٱلْمُؤْتَفِكَٰتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَٰتِ ۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Contoh lainnya adalah QS Ali Imran ayat 3-4 yang mengurutkan kitab suci sesuai waktu turunnya terlebih dahulu mulai dari taurat yang diterima nabi Musa, lalu kitab Injil yang diberikan kepada nabi Isa, dan terakhir adalah al-Quran atau al Furqan.
نَزَّلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ مِن قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ ٱلْفُرْقَانَ

Ketujuh, sababiyyah. Artinya sebab akibat. Ada kata yang didahulukan daripada kata lainnya karena merupakan sebab akibat. Misalnya dalam QS Al-Baqarah ayat 222 mendahulukan tobat daripada suci karena orang bisa suci jika ia sudah bertobat.
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَٱعْتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

Contoh lainnya misalnya potongan QS An-Nur ayat 30 yang mendahulukan penglihatan daripada kemaluan karena jika seseorang menjaga penglihatan dengan baik maka ia pun termasuk orang yang menjaga kehormatannya.
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

Kedelapan, katsrah. Katsrah artinya banyak atau mayoritas. Didahulukan karena jumlahnya lebih banyak. Di antara salah satu contohnya adalah QS at-Taghabun ayat 2 yang mendahulukan kafir daripada mukmin karena jumlah orang kafir lebih banyak.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Contoh yang lain misalnya QS Fathir ayat 32 yang membagi manusia menjadi tiga. Urutannya juga menunjukkan jumlah golongannya. Golongan pertama yaitu orang yang zalim. Golongan kedua orang pertengahan. Dan ketiga merupakan orang yang berlomba dalam kebaikan.
ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Kesembilan, taraqqi. Yang dimaksud adalah tahap kenaikan dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Termasuk dalam jenis ini adalah mendahulukan yang kurang kuat dan mengakhirkan yang lebih kuat. Misalnya QS al-A'raf ayat 195
أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَآ ۖ أَمْ لَهُمْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۗ قُلِ ٱدْعُوا۟ شُرَكَآءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنظِرُونِ

Dalam ayat di atas, terdapat urutan tentang 4 hal yaitu kaki, tangan, mata, dan telinga. Maka bisa disebutkan bahwa posisi kaki lebih rendah daripada tangan, lalu tangan itu lebih rendah daripada mata, lalu mata itu lebih rendah daripada telinga.

Kesepuluh, tadalli. Ini merupakan kebalikan dari taraqqi. Yaitu tahap penurunan dari sesuatu yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Misalnya QS al-Anbiya ayat 79 yang mendahulukan gunung dari pada burung karena tasbihnya gunung lebih dahsyat.
فَفَهَّمْنَٰهَا سُلَيْمَٰنَ ۚ وَكُلًّا ءَاتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَٱلطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ

Demikian artikel berjudul "Hikmah Taqdim Ta'khir al-Quran". Baca artikel-artikel lain seputar ulumul Quran di situs ini atau Anda bisa memberikan saran atau usulan terkait artikel selanjutnya dengan menulis di komentar. Semoga bermanfaat.

Subscribe untuk mendapat email artikel terbaru:

0 Response to "Hikmah Taqdim Ta'khir al-Quran"

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel ini. Bila berkenan, Anda bisa tinggalkan komentar. Semoga komentar-komentar baik Anda diberi balasan oleh Allah...